Visi Guru pengerak

 JURNAL DWI MINGGUAN MODUL 1.3 
VISI GURU PENGERAK

DESI AZMARIANTY,S.Pd
SMKN 1 SUNGAI RUMBAI

cgp 06A2 Sumbar


Pada modul 1.3 ini, saya mempelajari bagaimana menyusun visi sebagai guru penggerak melalui gambaran impian murid saya di masa depan. pembelajaran ini diawali dengan sebuah refleksi pada alur mulai dari diri. pada alur ini, kita diminta untuk menggambarkan bagaimana murid kita di masa depan. 

Pada tugas ini saya memimpikan murid saya adalah pribadi yang berkarakter profil pelajar pancasila, inovatif dan kreatif sehingga menumbuhkan jiwa  entrepreneur hebat, mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang seluas luasnya. 

setelah menjabarkan murid seperti apa yang saya impikan, saya juga diminta untuk menyusun visi saya sebagai guru penggerak dari gambaran murid yang saya impikan ini. hal ini dilakukan agar impian saya terhadap murid ini menjadi sebuah kenyataan dan dapat terwujud di kehidupan yang akan datang.

Visi yang saya susun berdasarkan impian saya itu adalah "mewujudkan peserta didik yang berkarakter profil pancasila, memilki kreativitas, inovatif dan mandiri sehingga mengantarkan mereka memilki jiwa entrepreneur, menumbuhkan jiwa kewirausahaan dalam ekosistem pembelajaran yang berpihak pada murid. 

Setelah menyusun visi saya juga membuat prakarsa perubahan melalui paradigma Inkuiri Apresiatif (IA). dimana pendekatan ini adalah suatu pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. IA menggunakan prinsip-prinsip psikologi positif di sekolah. 

Pendekatan IA dapat dimulai dengan mengidentifikasi hal baik apa yang ada di sekolah, mencari cara bagaimana hal tersebut dipertahankan, dan memunculkan strategi untuk mewujudkan ke arah yang lebih baik melalui tahapan BAGJA. 

Pada alur eksplorasi konsep terdapat hal menarik yang saya peroleh yaitu saat ditugaskan untuk berlatih membuat alur tahapan BAGJA untuk mewujudkan prakarsa perubahan yang akan dilakukan. pada tahapn ini saya menyusun prakarsa perubahan dari visi yang telah saya buat yaitu : 

"menumbuhkembangkan kreatifitas den kemandirian literasi digital dalam pembelajaran". kenapa prakarsa perubahan ini saya angkat karena  saat ini kita terlepas dari dunia digital misalnya penggunaan android, sumber informasi pembelajaran lebih banyak di dapatkan dari sumber internet, sehingga anak - anak harus memiliki kecakapan dan mampu  mengunakan fasilitas internet terutama android dengan bijaksana. dengan penumbuhkembangan literasi digital  dapat pula kita menanamkan budaya- budaya  positif seperti   penanaman budaya kebersihan diri  dan lingkungan, penanaman nilai-nilai religius, penanaman budaya literasi, dan penggunaan media digital  menciptakan konten pembelajaran yang menarik yang bersumber dari buku dan internet
entrepreneur, jiwa kewirausahaan, bisnis digital



Blogger. mengemabgkan literasi digital dalam pemeblajaran 






gambar. 1 : Cross teaching, berbagi, berkolaborasi dan belajar bersama antar fase C dan fase F

Kemudian dilaksanakan ruang kolaborasi, tahap ini yang sering saya tunggu-tunggu karena pada tahap ini kita berjumpa lagi dengan rekan-rekan CGP lainnya selain itu dapat bertemu walau dalam daring dengan bapak  fasilitator yang  sabar dan  baik hati Muhalis Bebang beserta ibu  pengajar praktik ibu Yenita Anwar yang pada kesempatan ini kami  berkolaborasi untuk menyusun visi hasil rumusan dari seluruh anggota kelompok.

Visi yang disusun adalah mewujudkan peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, mewujudkan SDM unggul generasi emas 2030, dan berbudaya lingkungan yang mencerminkan profil pelajar pancasila. 

Kemudian saya yang tergabung dalam  kelompok A2 Sumbar  mendapat  kesempatan untuk mempresentasikan hasil diskusi dan kolaborasi yang telah disusun bersama. ada beberapa masukan setelah diskusi dilakukan yaitu pada prakarsa perubahan yang dibuat bahasa yang digunakan masih bersifat umum belum terlalu spesifik


pada modul 1.3 ini kita diajak untuk belajar merumuskan suatu visi atau cita-cita yang kita impikan tentang murid, kemudian cita-cita tersebut kita susun untuk diwujudkan dalam sebuah aksi nyata baik di kelas maupun di sekolah dengan sebuah prakarsa perubahan yang disusun dengan menggunakan paradigma Inkuiri Apresiatif Alur BAGJA. 

Ini merupakan pengalaman pertama dan luar biasa bagi saya dan tentunya sangat bermanfaat. melalui tahapan ini memberikan peluang bagi saya untuk dapat mewujudkan murid yang saya impikan sehingga menjadi sebuah perencanaan yang matang dan menjadi fokus berbuat untuk kemajuan anak didik kita. 

Melalui paradigma Inkuiri Apresiatif perubahan yang dilakukan ini dimulai dengan mengidentifikasi hal baik apa yang ada di sekolah, mencari cara bagaimana hal tersebut dipertahankan, dan memunculkan strategi untuk mewujudkan ke arah yang lebih baik melalui tahapan BAGJA sehingga kita fokus untuk meningkatkan hal-hal baik apa yang kita miliki dan menutup segala kelemahan-kelemahan menjadi tidak tampak bahkan hilang. 

Karena kelemahan dan hal-hal negatif ini dapat mengurangi motivasi kita dalam melakukan perubahan sehingga kadang ini dapat melemahkan apa yang menjadi fokus tujuan kita dalam menuntun peserta didik sesuai kodrat keadaannya sehingga meraih keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya dan menjadikan mimpi yang selama ini hanya angan-angan dapat terwujud dengan kerja nyata dan komitmen tinggi serta semangat yang kuat untuk terus melakukan perubahan-perubahan yang didasarkan pada kekuatan-kekuatan dan aset yang dimiliki sehingga kita hanya meneballakukan apa yang telah dilakukan kemudian melakukan perubahan dari apa-apa yang belum terlaksana dengan baik.   

setelah melalui tahapan yang dilalui pada modul 1.3 ini, gambaran untuk melangkah melakukan perubahan sudah semakin jelas terlihat. apa yang menjadi impian dan angan-angan dapat kita wujudkan melalui aksi nyata walupun perubahan yang dilakukan itu kecil namun ternyata untuk memulai suatu perubahan tidak perlu harus yang besar, cukup dengan perubahan kecil dan bersumber dari kekuatan yang dimilki namun dilakukan secara konsisten dan terusmenerus secara berkelanjutan.

Tahapan BAGJA melalui prakarsa perubahan ini menjadi gambaran nyata apa yang akan kita lakukan dan bagaimana meujudkannya. selama ini saya memang memiliki impian tentang siswa namun impian itu tidak akan terwujud dengan baik karena saya tidak memiliki perencanaan dan prakarsa perubahan. saya cenderung menunggu padahal untuk mencapai tujuan yang kita inginkan, maka harus dimulai dari diri kita sendiri.

Kita tidak mungkin akan memaksa orang lain bergerak jika kita tidak mengawali bergerak. maka saya telah memulai merencanakan aksi nyata yang saya lakukan dengan berkolaborasi dengan sekolah lain, melakukan perubahan, berbagi ilmu lintas fase, dimana siswa - siwa saya ajak untuk meningkatkan kompetensi dengan berbagi dengan siswa sekolah dan melakukan belajar bersama, dan hasil sungguh luar biasa, kegitan ini saya sebut dengan cross teaching melakukan pembelajaran lintas minat dengan komposisi siswa muda dan siswa yang lebih tua.



Pada modul 1.3 ini saya mempelajari teantang cara mewujudkan sebuah visi sekolah impian dan melakukan proses perubahan dengan menggunakan sebuah pendekatan atau paradigma. Pendekatan ini dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan. Pendekatan yang saya pelajari pada modul 1.3 ini adalah Inkuiri apresiatif (IA) dikembangkan oleh David Cooperrider (Cooperrider & Whitney, 2005; Noble & McGrath, 2016). 

Inkuiri Apresiatif (IA) merupakan pendekatan kolaboratif berbasis kekuatan yang bertujuan untuk melakukan perubahan, inkuiri apresiatif juga merupakan model managemen kolaboratif yang membawa perbaikan dalam suatu sistem misalnya di sekolah atau dalam lingkup kecil adalah kelas. 

Managemen perubahan ini kita lakukan dengan menyusun tindakan menggunakan tahapan B-A-G-J-A. Hal paling penting dan saya garis bawahi dalam menyusun prakarsa perubahan ini adalah melihat kekuatan bukan masalah. 

Selama ini dalam pandangan kita sebagai guru terutama saya untuk melakukan suatu perubahan itu selalu melihat masalah sehingga yang muncul adalah mencari kesalahan bukan solusi sedangkan jika kita melihat kekuatan atau potensi yang ada, maka kita akan berfokus pada kekuatan atau kelebihan bukan kelemahan. 

Dari pelajaran tersebut saya berpikir tentang rencana ke depan sebagai aksi nyata saya di kelas dalam mewujudkan visi murid impian dengan merumuskan prakarsa perubahan yang saya fokuskan pada menuntun kekuatan atau potensi murid, saya harus menanamkan dalam hati mulai sekarang bahwa tidak ada murid bodoh yang ada adalah kita sebagai guru yang tidak mampu mengarahkan potensinya. 

Salah satu aksi nyata saya di kelas untuk mewujudkan prakarsa perubahan yang saya buat adalah dengan menerapkan metode pembelajaran cross teaching 
metode ini merupakan salah satu strategi praktek pembelajaran atau pembimbingan dengan siswa lintas minat/ lintas bidang ataupun lintas fase yang merupakan bagian strategi pembelajaran yang menyenangkan.

Ini menjadi kekuatan yang nantinya menjadi sangat dibutuhkan bagi kehidupan di masa  depannya kelak. karena dengan kemampuan kolaborasi ini siswa menjadi lebih mengenal kemampuan diri sendiri, membina hubungan baik dengan orang lain, saling menghargai hubungan dan kerja tim untuk mencapai tujuan yang sama, dan mampu bekerja sama dalam kelompok.
Trimakasih
Semogabermanfaat


Dharmasraya, 13 oktober 2022






Komentar

Postingan populer dari blog ini

koneksi antar amteri modul 3.3

FORUM BERBAGI BUDAYA POSITIF